Mengenal Realfood adalah Sarang Burung Walet Lokal

realfood adalah

Perusahaan makanan dan minuman sehat berbasis sarang burung walet, Realfood, memperkenalkan minuman sarang burung walet. Apalagi, Indonesia salah satu negara penghasil sarang burung walet terbaik di dunia.

Ada pun manfaat dari sarang burung walet adalah untuk melancarkan metabolisme tubuh, menjaga kesehatan kulit, mempercepat proses regenerasi sel, menjaga sistem pencernaan. Khasiat lain adalah booster dalam sistem tubuh.

Kandungan asam sialat dalam sarang burung walet teruji 11,9 kali lebih tinggi dibanding asam sialat dalam ASI kolostrum yang dapat mengoptimakan perkembangan otak pada janin. Minuman sarang burung walet ini baiknya dikonsumsi setelah bangun tidur atau sebelum tidur saat perut kosong, karena pada kondisi itu, tubuh lebih menyerap zat-zat aktif dari minuman tersebut seperti asam sialat, Epidermal Growth Factor, asam amino, dan mineral.

Untuk menikmati khasiat burung walet dibutuhkan proses hampir enam jam untuk mengolah sarang burung walet dari pembersihan sarang, pencucian, hingga perebusan. Tak heran, sarang burung walet termasuk dalam komoditas produk hewani yang dijual dengan harga 2 ribu hingga 3 ribu dolar AS per kilogram.

Adalah Edwin Pranata yang secara serius memperkenalkan khasiat sarang burung walet melalui makanan dan minuman sehat. Diberi nama Realfood, menurut Edwin, produk ini dihasilkan dari proses yang tidak mudah. Setidaknya, untuk menikmati khasiat sarang burung walet, dibutuhkan proses hampir enam jam untuk mengolahnya, mulai dari membersihkan, mencuci, hingga merebusnya. Tak mengherankan, komoditas produk hewani ini dijual seharga US$ 2 ribu-3 ribu per kilogram.

Dikatakan Edwin, Realfood tidak datang tiba-tiba. Mulanya, sebagai atlet tenis saat kecil (umur 6-12 tahun), ia terbiasa hidup sehat. Ia pun terbiasa dengan sarang burung walet karena selalu diberi oleh orang tuanya

Nah, sampai suatu ketika, tahun 2011, saat kuliah di Seattle, Amerika Serikat, Edwin sering merasakan sakit kepala. Ia pun teringat ibunya yang menyimpan sarang burung walet di kulkas dan menganjurkan Edwin untuk mengonsumsinya supaya sehat.

Masalahnya, bagaimana mengolah makanan berbasis sarang burung walet? Edwin pun merasa kesulitan, walaupun beberapa kali mencoba memasak dan meminumnya. Barulah ketika kembali ke Tanah Air tahun 2012, ia mulai melakukan riset untuk mengetahui lebih dalam mengenai manfaatnya, mengapa sarang burung walet mahal dan dikonsumsi keluarga kerajaan di China sejak ribuan tahun lalu.

Setelah berjibaku dengan percobaan dan penelitian selama 3,5 tahun, baik di dapur rumah maupun laboratorium, akhirnya pada 2016 lahirlah Realfood. Dalam perkembangannya, ia tidak hanya fokus pada sarang burung wallet, tetapi juga menggunakan bahan-bahan asli dari Indonesia.

Diberi nama Realfoof, Edwin menjelaskan, produknya punya sejumlah visi-misi. Yaitu, Real Life: mencetuskan dan menggerakkan setiap orang untuk menjalankan gaya hidup sehat; Real Smile, menciptakan kebahagiaan bagi semua orang dalam bisnis dari anggota, pemasok, hingga distributor untuk pelanggan; serta Real Change: membuat dampak dan perbedaan dalam kehidupan orang lain melalui komitmennya terhadap tujuan sosial.

Diakui Edwin yang menempuh studi Manajemen Investasi di Universitas Seattle, AS ini, untuk mengenalkan produknya masih susah karena orang belum sadar akan hidup sehat dan belum peduli untuk mengonsumsi produk kesehatan.

Untuk strategi pemasarannya, Edwin menggunakan media sosial. Banyak orang yang sudah merasakan manfaatnya sehingga terciptalah promosi word of mouth. “Sejak awal kami fokus pada produk. Menurut saya, strategi sebagus apa pun, jika produknya tidak bagus, orang hanya akan coba kemudian tidak melakukan repeat order,” ia menjelaskan. Selain itu, Realfood juga menggunakan duta merek pasangan artis Chelsea Oliva-Glenn Alinskie serta Citra Kirana-Rezky Aditya.

Bagi Edwin, Realfood yang diproduksi di pabrik di Bojonegoro, Jawa Timur, bukan produk yang asal jadi dan asal laku di pasar. Dengan total karyawan sekitar 300 orang, termasuk yang berkantor di Jakarta dan Surabaya, ia telah lama merencanakan produk ini, bahkan ribuan kali melakukan trial dan error. Sehingga, ia pun tidak terpancing dengan persaingan di pasar atau memainkan harga.

“Justru yang membedakan, kami memiliki sebuah formula dan program yang tidak dimiliki oleh brand lain. Saat ini juga banyak yang meniru, mulai dari warna hingga packaging-nya. Untuk itu, kami selalu mengedukasi di media sosial,” katanya percaya diri.

Mengingat banyak produk yang memberikan value kesehatan, dan persaingan sudah sangat ketat, Edwin berharap, Realfood adalah dapat tetap eksis dan survive sehingga menonjol dari yang lain. Ia percaya, dengan menggunakan online reseller –saat ini pihaknya fokus ke online sehingga tidak bisa ditemukan di toko-toko lagi– serta bekerjasama dengan marketplace dan online distributor, hal itu akan meminimalkan produk tiruan/sejenis yang mendompleng popularitas Realfood.