Pentingnya Zat Besi Dalam Sangobion Sirup

sangobion sirup

Sangobion sirup adalah suplemen zat besi untuk pertumbuhan dan pencegahan anemia pada anak. Zat besi merupakan sebuah mineral penting untuk fungsi hemoglobin yang baik. Hemoglobin adalah protein yang dibutuhkan untuk membawa oksigen di dalam darah. Selain itu, zat besi juga memiliki sebuah peran dalam berbagai proses penting dalam tubuh. Kurangnya zat besi di dalam darah dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan serius, seperti anemia defisiensi zat besi. 

Rekomendasi asupan zat besi seseorang berbeda-beda tergantung usia dan jenis kelamin. Mereka yang mengikuti gaya hidup vegetarian juga membutuhkan asupan zat besi yang berbeda. Anak usia 0-6 bulan membutuhkan 0,27 mg zat besi, sementara usia 7 hingga 12 bulan membutuhkan 11 mg. Berbeda lagi dengan anak usia 1-3 tahun yang membutuhkan 7 mg zat besi per hari, sementara anak usia 4-8 tahun membutuhkan 10 mg zat besi per hari. Sementara itu, anak usia 9-13 tahun membutuhkan 8 mg per hari. Guna memenuhi kebutuhan harian tersebut, suplemen seperti sangobion sirup bisa digunakan untuk si kecil. 

Suplemen zat besi seperti sangobion sirup bisa sangat bermanfaat ketika Anda kesulitan memenuhi kebutuhan zat besi lewat cara diet biasa, terutama mereka yang mengikuti gaya hidup vegan dan vegetarian. Namun, akan lebih baik apabila Anda mendapatkan asupan zat besi tersebut dari diet atau makanan saja, dengan cara mengurangi faktor yang dapat mengganggu penyerapan zat besi dan mengonsumsi makanan yang tinggi kandungan zat besi. Hal ini karena banyak makanan yang tinggi kandungan zat besi juga memiliki nutrisi bermanfaat lainnya yang dapat bekerja bersama dalam mendukung kesehatan keseluruhan Anda dan keluarga. 

Zat besi memiliki bioavailabilitas yang rendah, dalam arti usus kecil tidak dapat menyerap zat besi dalam jumlah yang besar. Hal ini akan menurunkan availabilitas untuk penggunaan dan meningkatnya kemungkinan defisiensi. Efisiensi penyerapan akan bergantung pada beberapa faktor, termasuk sumber zat besi, komponen diet lain, kesehatan gastrointestinal, penggunaan obat-obatan atau suplemen, status zat besi keseluruhan seseorang, dan keberadaan pendukung zat besi seperti vitamin C. 

Dalam banyak negara, produk gandum dan formula bayi difortifikasi dengan zat besi. Ada dua jenis diet zat besi, yang dikenal dengan sebutan “heme” dan “non-heme”. Sumber makanan hewani, termasuk daging dan makanan laut, mengandung zat besi heme. Zat besi heme lebih mudah diserap oleh tubuh. Sementara itu, zat besi non-heme ditemukan di tanaman, dan membuat tubuh memerlukan beberapa langkah untuk menyerapnya. Sumber zat besi nabati di antaranya adalah kacang-kacangan, kacang kedelai, sayuran, dan gandum yang difortifikasi. 

Bioavailabilitas zat besi heme dari sumber hewani dapat mencapai 40 persen. Akan tetapi, zat besi heme dari sumber nabati hanya memiliki bioavailabilitas antara 2 hingga 20 persen. Oleh karena alasan ini, RDA untuk mereka yang menganut gaya hidup vegetarian 1,8 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain yang mengonsumsi daging untuk mengimbangi level penyerapan yang rendah dari makanan nabati. 

Mengonsumsi makanan tinggi kandungan vitamin C bersamaan dengan sumber zat besi non-heme dapat meningkatkan penyerapan zat besi secara drastis. Beberapa makanan yang merupakan sumber zat besi yang baik di antaranya adalah kerang, oats, hati sapi, tahu, kentang, dan kacang cashew. Anda juga bisa memberikan sangobion sirup untuk anak guna menunjang perkembangan dan pertumbuhannya, sekaligus memenuhi kebutuhan zat besi harian.